Minggu, 07 Agustus 2011

tafsir surat al-ikhlas

Tafsir Surah al-Ikhlaas
oleh

Shaykh-ul-Islam Taqi ad-Deen Ibn Taymiyyah

Lahir 1263 M / 661 A. H., wafat 1328 M / 728 A. H.

Ahl-us-Sunnah wal-Jamaa'ah (yakni kaum Sunni) tidak akan menyimpang dari hal-hal yang telah dibawa oleh Rasulullah, yaitu Jalan Yang Lurus, jalan dari orang-orang yang telah dirahmati Allah dari para Nabi, Shidiqqin [orang-orang yang benar], Syuhada [orang-orang yang syahid] dan Shalihin [orang-orang shalih]. Jalan ini terkumpul dalam apa yang telah dijelaskan oleh Allah Yang Maha Mulia dalam Surah al-Ikhlaas (secara bahasa berarti “Surah Kemurnian”) sehingga menjadikan surah ini setimbang dengan sepertiga Al-Qur'an. Dalam surah ini, Allah Yang Maha Mulia berfirman :
"Katakan! Dia-lah Allah Yang Maha Esa!
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu!
Dia tidak akan beranak dan tidak pernah diperanakkan.
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."
1. Apa saja yang dibawa oleh Rasulullah صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah benar adanya. Wajib untuk mengikutinya dan dilarang menyimpang darinya, karena hanya inilah jalan yang lurus yang tidak pernah bengkok.

2. Jalan Lurus hanya satu, dan siapa saja yang menyimpang darinya maka dia tersesat ke jalan yang salah, bid’ah dan sesat. Allah Yang Maha Mulia memerintahkan [dalam Al-Qur'an] :
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan jangan mengikuti jalan-jalan lain agar mereka tidak membelokkanmu dari jalan-Nya”.
3. Jalan lurus adalah jalan Ummah (komunitas orang-orang Islam yang beriman) yang terletak di antara dua batas ekstrim. Kemudian pengulangan dalam setiap rak'ah (yakni satuan) shalat : "Tunjukilah kami Jalan Yang Lurus ", maksudnya agar Dia senantiasa menolong, membantu, mengarahkan, mengokohkan dan membawa kita untuk mentaati-Nya dan menjaga kita agar tetap teguh di atas Jalan-Nya. Inilah jalan orang-orang yang dirahmati Allah : Para Nabi, Shidiqqin, Syuhada dan Shalihin, serta inilah yang terbaik untuk menjaga keutuhan.

4. Konsep Tawheed telah dijelaskan dalam Surah al-Ikhlaas dengan memisahkan dan membersihkannya dari Shirk (menyekutukan selain Allah dengan Allah Yang Maha Mulia, yakni polytheism dan paganisme [watsaniyyah]).

5. Riwayat Imam Ahmad dari 'Ubayy bin Ka'ab bahwa orang-orang musyrik bertanya : "Wahai Muhammed! Ceritakan kepada kami asal-usul Tuhan-mul", maka Allah menurunkan surah ini.
6. Dari hadiths shahih, terbukti bahwa surah ini setimbang dengan sepertiga Al-Qur'an. Inti pernyataan Ibn 'Abbaas (seorang shahabat Nabi) adalah sebagai berikut : bahwa Al-Qur'an terdiri dari tiga bagian yang mendasar :
a) Perintah-perintah dan larangan-larangan yang terkandung padanya hukum-hukum dan cara-cara melaksanakannya. Ini merupakan landasan yang membentuk bidang kajian ilmu Fiqh (jurisprudence) dan Adab [Akhlaq] (Ethika).
b) Kisah-kisah dan riwayat-riwayat yang berupa cerita-cerita para Nabi dan Rasul Allah serta masyarakatnya. Hukuman dan bencana menimpa pada mereka yang menentang dan mengingkari para Rasul Allah. Demikian pula janji, pahala, peringatan dan malapetaka.

c) Pengetahuan tentang Tawheed (Pengesaan Allah) dan penjelasan tentang perkara-perkara yang berkenaan Nama-nama Allah Yang Maha Mulia dan shifat-shifat-Nya, yang kebenarannya bersifat mutlak bagi para hamba Allah [yakni setiap orang Islam]. Di antara tiga hal tersebut, inilah yang paling utama.
7. Surah al-Ikhlaas mengandung bagian yang ketiga dan merupakan penjelasan umum tentangnya. Dengan demikian tepat apabila dikatakan bahwa surah ini setimbang dengan sepertiga Al-Qur'an.

8. Jawaban untuk pertanyaan bahwa bagaimana bisa surah ini mengandung pengetahuan Tawheed secara lengkap dan prinsip-prinsip yang merupakan pokok keimanan kepada Allah Yang Maha Mulia. Perintah Allah "Dia-lah Allah Yang Maha Esa " meniadakan tandingan bagi-Nya dalam segala hal, apakah berkenaan dengan Dzat-Nya, Shifat-Shifat-Nya atau Perbuatan-Perbuatan-Nya. Ini juga menunjukkan kekhususan Allah dalam kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya. Dengan kata Ahad ditetapkan bahwa tidak pernah ada tandingan di samping Allah, karena Ahad lebih tegas daripada Wahid.

9. Tafseer (penjelasan) Ibn 'Abbaas untuk ayat "Allahush-shamad (yaitu Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)." : Tuhan yang paling sempurna kemuliaan-Nya. Tuhan Yang Maha Agung yang paling besar keagungan-Nya. Tuhan Yang Maha Lembut yang paling sempurna kelembutan-Nya. Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling hebat kekuasaan-Nya, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang paling sempurna pengetahuan-Nya. Dzat-Nya Maha Sempurna dalam segala jenis kemuliaan dan keagungan – bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan – Yang Maha Terpuji dan Maha Kuasa. Hanya Dia sajalah yang memiliki shifat-shifat tersebut, maka manusia tidak dapat mengambil sesuatu pun yang akan menyelamatkan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang setara dan serupa dengan-Nya.

10. Tafseer – nya juga sebagai berikut : Dzat yang tidak ada kekhawatiran pada-Nya ketika semua makhluq-Nya kembali dan bergantung kepada-Nya atas semua hajat dan perbuatannya.

11. Penetapan atas keesaan-Nya menuntut untuk meniadakan segala bentuk kesyirikan dan tandingan bagi-Nya. Termasuk dalam penetapan bagi makna al-Samad adalah semua Nama-nama-Nya Yang Maha Mulia dan semua Shifat-Shifat-Nya Yang Maha Sempurna. Inilah Tawheed Penetapan.

12. Tawheed Al-Ikh-lash adalah dalam ungkapan : " Dia tidak akan beranak dan tidak pernah diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya ". Ungkapan ini dapat juga dipahami dari ungkapan umum : " Katakan! Dia-lah Allah Yang Maha Esa ". Tidak ada seorang pun yang diperanakkan dari-Nya atau tidak ada seorang pun yang memperanakan-Nya. Dia tidak memiliki tandingan, tidak ada yang setara dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.

13. Konsep Tawheed sangat dominan dalam surah ini. Penetapan keesaan Tuhan secara total dan mutlak menuntut pengingkaran terhadap segala kesyirikan. Manifestasi dari Shifat-Nya Ash-Shamad adalah mencakup semua Shifat-Shifat-Nya, bahwa Dia terbebas dari segala aib dan kekurangan, tidak memiliki bapak dan putra di mana ini merupakan implikasi bahwa Dia tidak berhajat kepada siapa pun, bahkan siapa saja justru berhajat kepada-Nya. Semua ini tercakup dalam ungkapan Ash-Shamad dan Ahad. Pengingkaran terhadap tandingan termasuk pengingkaran kepada keserupaan, kesetaraan dan kesamaan. Surah ini mencakup semua hal tersebut, sehingga sungguh-sungguh layak apabila ia setara dengan sepertiga Al-Qur'an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar