Minggu, 28 Agustus 2011

tentnag berbakti kepada kedua orang tua


TENTANG BAKTI KEPADA ORANG TUA
Pelajaran dipetik dari al-Adab al-Mufrad [1] oleh Imam al-Bukhari [2]
Compiled by Abu Madeena ibn Abdul Hameed

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, serta shalawat dan salam semoga senantiasa Dia curahkan kepada Rasul terakhir-Nya Muhammad ibn Abdullah, صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , contoh dan teladan terbaik, yang kita diperintahkan untuk mengikuti dan meneladaninya. Kemudian rahmat dan ampunan Allah semoga tercurahkan kepada keluarga Nabi dan para shahabatnya yang mulia.
Amma ba’du ...

BAB 1 : MEMULIAKAN ORANG TUA
Imam al-Bukhari memulai kitabnya al-Adab al-Mufrad dengan sebuah bab tentang memuliakan orang tua, ini menunjukkan pentingnya tema ini di atas tema-tema yang lain yang dia kemukakan kemudian. Dia memulai dengan mengutip sebuah ayat Al-Qur'anul-Kariim :
"Dan Kami telah memerintahkan manusia untuk patuh kepada orang tuanya." [3]
Imam ibn Kathir [4] berkata mengenai ayat ini :
"Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk patuh kepada orang tuanya ... karena orang tua adalah sebab dari keberadaannya [dengan izin-Nya]. Maka dia harus memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya dan penuh hormat, ayahnya yang telah menafkahinya dan ibunya yang telah memeliharanya dengan penuh kasih sayang." [5]
Di beberapa tempat dalam Al-Qur'an (termasuk yang baru saja dinukil), Allah menjelaskan tentang kepatuhan kepada orang tua sesudah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata. Sehingga ibadah kepada Allah yang tidak dikotori dengan shirk, di mana shirk merupakan dosa terbesar, adalah terkait dengan memuliakan orang tua [6], oleh karena itu kewajiban ini jangan dianggap remeh. Kita bisa mendapatkan pelajaran dari ayat-ayat berikut tentang tatakrama di mana sudah selayaknya orang tua dimuliakan. Allah berfirman :

"Dan hendaklah engkau patuh kepada orang tuamu. Jika salah satu dari mereka atau keduanya mencapai usia tua dalam kehidupanmu, janganlah mengatakan kepada mereka sebuah ucapan yang kasar, atau janganlah menghina mereka akan tetapi pergaulilah mereka dengan cara-cara yang baik."
"Dan tunduklah kepada mereka dengan kepatuhan dan kerendahan hati yang diserta kasih sayang, dan ucapkan: Wahai Tuhan-ku! Limpahkanlah kepada mereka [kedua orang tua] rahmat-Mu sebagaimana mereka telah memeliharaku ketika aku kecil." [7]
Imam ibn Kathir menjelaskan :
"[Ini] berarti, jangan biarkan mereka mendengar sesuatu yang menyakitkan dari anda, bahkan jangan mengatakan “uff” yang merupakan ucapan kasar yang paling ringan. ' Atau janganlah menghina mereka' berarti, jangan melakukan sesuatu yang menyakitkan mereka. 'Ata' bin Rabah [8] berarti bahwa ini artinya, 'Jangan mengacungkan tangan anda ke hadapan mereka.' Jika Allah melarang berbicara dan berperilaku kepada mereka dengan cara buruk, tentunya Dia memerintahkan untuk berbicara dan berperilaku kepada mereka dengan cara yang baik, sehingga Dia berfirman ' ... akan tetapi pergaulilah mereka dengan cara-cara yang baik,' berarti lembut, baik, santun, penuh hormat dan memuliakan. 'Dan tunduklah kepada mereka dengan kepatuhan dan kerendahan hati yang diserta kasih sayang' berarti, merendah di hadapan mereka dalam perilaku anda. Dan ucapkan 'Wahai Tuhan-ku! Limpahkanlah kepada mereka [kedua orang tua] rahmat-Mu sebagaimana mereka telah memeliharaku ketika aku kecil ' berarti, ucapkan doa ini ketika mereka telah menjadi renta dan ketika mereka telah wafat." [9]
Imam al-Bukhari kemudian meriwayatkan hadith yang pertama, yang menunjukkan kedudukan tema yang tinggi di atas tema-tema yang lain yang dikemukakan sesudah ini :
'Abdullah ibn 'Umar [10] berkata, "Aku bertanya kepada Nabi, صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, tentang amal yang paling Allah cintai. Beliau menjawab :
'Shalat tepat pada waktunya.'
Kemudian apa? Aku bertanya. Beliau menjawab:
'Kemudian bakti kepada orang tua.'
Aku bertanya, kemudian apa? Beliau menjawab :
'Kemudian jihad di jalan Allah.' "
Dia [ibn 'Umar] menambahkan, "Beliau mengatakan kepadaku tentang hal-hal seperti ini. Jika aku bertanya kepada beliau agar mengatakan kepadaku lebih banyak lagi, tentunya beliau akan mengatakan kepadaku lebih banyak lagi." [11]
Pelajaran-pelajaran dari hadith ini adalah,
• Kita mendapatkan akhlaq para shahabat, bahwa mereka sungguh-sungguh dalam mencari ridha Allah, dengan melakukan amal-amal yang dicintai-Nya, bukan melakukan apa yang mereka senangi,
• Ini mengandung teladan bagi orang yang ingin mengetahui sesuatu, maka sudah selayaknya bagi dia untuk bertanya pada orang yang tahu, serta
• Kita dapatkan bahwa tiga amalan berikut dicintai oleh Allah :
1. Amalan shalat tepat pada waktunya, bahwa ia dilakukan segera setelah waktu shalat masuk, bukan sebagaimana shalatnya orang munafiq yang menunda shalat hingga tepat sebelum permulaan waktu shalat berikutnya.
2. Bakti kepada orang tua, dan
3. Amalan jihad di jalan Allah, sebuah amal yang melibatkan pengorbanan yang agung dan ketabahan.
Maka di antara rukun Islam yang kedua yang agung, yakni shalat tepat pada waktunya, dan anjuran untuk menjadi syuhada – yaitu jihad di jalan Allah, terdapat ajaran untuk bakti kepada orang tua, yang merupakan anjuran yang cukup untuk memperlakukan orang tua dengan lebih baik, karena dengan melakukannya, kita mendapatkan ridha Allah, serta mengikuti jejak langkah para pendahulu kita yang shalih [salafush-shalih].
Imam al-Bukhari kemudian meriwayatkan riwayat yang lain dari Abdullah ibn 'Umar, dia berkata :
"Ridha Allah terletak pada ridha orang tua. Murka Allah terletak pada murka orang tua." [12]
Pelajaran-pelajaran dari riwayat ini adalah, [13]
• Kita mendapatkan pelajaran bahwa ridha Allah terkait dengan ridha orang tua kita,
• Demikian pula sebaliknya, kita mendapatkan pelajaran bahwa murka Allah terkait dengan murka orang tua kita,
• Mencari ridha Allah akan mengantarkan ke sorga, sedangkan membangkitkan murka-Nya akan mengantarkan kepada Api Neraka, maka riwayat ini merupakan sebuah kunci sorga bagi orang yang ingin memasukinya,
• Dengan membuat orang tua ridha akan mempererat ikatan orang tua dan anak, serta ini juga akan menjadikan lingkungan rumah menjadi nyaman,
• Riwayat ini menetapkan shifat ridha bagi Allah, akan tetapi shifat ridha bagi Allah tidak sama dengan shifat ridha bagi makhluq-Nya, ini karena ridha makhluq merupakan perasaan yang menunjukkan kelemahannya, sedangkan shifat ridha bagi Allah terbebas dari segala kelemahan dan ketidak-sempurnaan, serta
• Demikian pula, riwayat ini menetapkan shifat murka bagi Allah, akan tetapi murka Allah tidak sama dengan murka makhluq-Nya, ini karena murka [kemarahan] merupakan perasaan yang dapat membawa kepada hal-hal yang tidak masuk akal, yang ini menunjukkan kelemahan makhluq, sedangkan shifat murka bagi Allah terbebas dari segala kelemahan dan ketidak-sempurnaan.
Kesimpulannya, hal-hal penting tentang memuliakan orang tua adalah, [14]
1. Thaat kepada Allah dan Rasul-Nya, صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,
2. Patuh dan memuliakan orang tua adalah sarana untuk memasuki sorga,
3. Menghormati dan memuliakan mereka membawa kepada persahabatan dan cinta kasih,
4. Menghormati dan mematuhi mereka adalah cara untuk menunjukkan rasa syukur kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang menyebabkan anda berada di dunia ini, serta
5. Jika seseorang memuliakan orang tuanya, ini akan menyebabkan anak-anaknya sendiri memuliakannya juga.
Kemudian, durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar. Meskipun demikian, tidak ada ketaatan kepada makhluq jika ujung-ujungnya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Kemudian sesudah orang tua wafat [dan ini jika mereka wafat dalam keadaan Islam], anaknya dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Jika dia memiliki kemampuan, dan orang tuanya wafat dengan meninggalkan hutang, maka dia dapat menggantikan kewajibannya melunasi hutangnya untuk mereka,
2. Jika dia memiliki kemampuan, dan orang tuanya belum melakukan Hajj, dia dapat melakukan Hajj dengan atas namanya, atau membayar seseorang untuk melakukan Hajj dengan atas namanya (jika dia atau orang itu telah melakukan kewajibannya), serta
3. Dia senantiasa berdoa untuk memohon ampunan dan rahmat bagi mereka.
Inilah akhir Bab 1, semoga Allah mempermudah bagiku untuk memberikan penjelasan selanjutnya pada bab berikutnya pada masa datang.
Aku akhiri bahwa segala puji hanya bagi Allah, serta shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Rasul-Nya Muhammad. [15]

1. Secara bebas diterjemahkan sebagai 'Good manners/etiquettes singled out' [Pemaparan tentang etika / akhlaq yang baik satu demi satu].
2. Dia adalah Imam Hadith, Abu Abdillah Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, lahir pada tahun 194H. Dia kesohor memiliki hapalan yang luar biasa dan telah melakukan pengembaraan yang lama serta jauh untuk mencari ilmu. Dia menulis banyak karya ilmiah, yang paling masyhur adalah al-Jami as-Sahih (yang secara luas disebut sebagai Sahih al-Bukhari), yang dinilai sebagai kitab yang paling shahih sesudah Kitab Allah. Dia wafat pada 256H, semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya.
3. Al-Qur'an 29:8
4. Dia adalah ahli tarikh dan mufassir Al-Qur'an yang termasyhur, yang menulis banyak buku di antaranya yang monumental adalah al-Bidayah wan-Nihayah (Yang Permulaan dan Yang Terakhir). Dia wafat pada 774H, semoga Allah merahmatinya.
5. Tafsir ibn Kathir
6. Tafsir ibn Kathir
7. Al-Qur'an 17:23-24
8. Imam 'Ata' bin Rabah adalah salah satu di antara imam tabi'in (penerus shahabat) dalam tafsir (exegesis dari Al-Qur'an) dan murid shahabat yang mulia Abdullah ibn Abbas, semoga Allah meridhainya. Dia wafat 114H.
9. Tafsir ibn Kathir
10. Dia adalah salah satu di antara para shahabat yang paling termasyhur dan berpengetahuan, putra dari Amirul-Mukminin, 'Umar ibn al-Khattab, semoga Allah meridhainya. Dia wafat pada 73H.
11. Shahih - Irwa (1197), Shaykh al-Albani
12. Hasan ketika mawquf, sahih ketika marfu'. As-Sahihah (515), Shaykh al-Albani
13. Shaykh al-Munajjid, merujuk pada Islam-QA: Akhlaq – Memuliakan Orang Tua
14. Shaykh al-Munajjid, merujuk pada Islam-QA: Akhlaq – Memuliakan Orang Tua
15. Terjemahan al-Adab al-Mufrad dapat diperoleh di http://bewley.virtualave.net/AdabMufrad.html, tahqiq oleh Shaykh al-Albani pada http://www.islamworld.net/HADITH/Mufrad.html dan penjelasan dalam bentuk rekaman audio tentang bab pertama oleh Salim Morgan pada http://www.svis.info/Recordings/select.asp?/Recordings/Salim/SahihAlAdabAlMufrad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar