Tujuan diutusnya para rasul
Allah berfirman :
"Dan tidaklah Ku-ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". (Adz-Dzariyat : 56)
Yakni manusia diciptakan agar mereka beribadah kepada Allah saja, dan konsekwensinya adalah harus menjauhi peribadatan kepada selain Allah.
Bahwa pada mulanya manusia adalah ummat yang satu, yakni ummat yang hanya berpegang kepada agama Adam a.s, ummat yang beribadah hanya kepada Allah saja, ummat yang ikhlash dalam ber-Tauhid. Kemudian setan menyimpangkan mereka dari agama, yakni mereka melakukan kesyirikan kepada Allah sehingga timbulah perselisihan di antara mereka. Kesyirikan merajalela, perselisihan makin parah, maka Allah mengutus para Rasul untuk menyeru manusia kembali kepada Tauhid dan menjauhi syirik, serta perselisihan pun akan hilang dengan bersatunya manusia di dalam Tauhid. Allah berfirman :
"Manusia dahulunya adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan". (Al-Baqarah : 213)
Puncak perselisihan manusia adalah persoalan Tauhid dan syirik, maka Allah memutuskan agar manusia menetapi Tauhid dan menjauhi syirik, serta barang siapa yang melakukan hal tersebut maka akan mendapatkan kegembiraan baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian barang siapa yang menyelisihinya, maka Allah melalui lisan Rasul-Nya memberikan peringatan dengan siksa-Nya yang kekal abadi. Allah berfirman :
"Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat yang menyeru, "Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut"." (An-Nahl : 36)
"Wahai kaumku beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tak ada Tuhan yang berhak diibadahi bagimu selain-Nya". (Al-A'raaf : 59)
"Bahwa kamu tidak beribadah selain kepada Allah". (Huud : 26)
"Beribadahlah kepada Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku".
(Nuh : 3)
"Dan tidaklah Kami mengutus Rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku". (Al-Anbiya : 25)
"Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya kebenaran yang disampaikannya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya itu. Dan kelak akan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, padahal Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali". (An-Nisa : 115)
Bahwa missi manusia di dunia adalah menetapi Tauhid, dan setiap kali manusia mengalami penyimpangan dari Tauhid, yakni melakukan kesyirikan dan akibatnya timbul banyak perselisihan, maka Allah turunkan para Rasul. Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kasyfusy-Syubhat, "Tauhid adalah mengesakan Allah saja dalam beribadah. Dan Tauhid ini adalah agama para rasul yang diutus Allah untuk mendakwahkan agama itu kepada hamba-Nya". Kemudian rasul pertama yang diutus kepada manusia adalah Nuh a.s. Sejak manusia pertama kali diciptakan hingga beberapa kurun belum mengalami penyimpangan, kemudian terjadi penyimpangan maka Allah utus Nuh a.s :
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya”. (An-Nisa : 163)
Rasul SAW bersabda :
"Bahwa manusia mendatangi Nuh dan mereka berkata, "Engkau adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah di muka bumi". (HR Bukhari dalam Kitab At-Tauhid, bab "Kalam Allah ma'a Al-Anbiya" dan HR Muslim dalam Kitab Al-Iman, bab "Adna Ahlu Al-Jannah Manzilan")
Kemudian rasul yang terakhir dan paling utama adalah Muhammad SAW :
“Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semuanya”. (Al-A'raaf : 158)
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi". (Al-Ahzab : 40)
“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan datangnya seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti--bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata”.”(Ash-Shaff : 6)
Rasul SAW bersabda :
"Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, siapa dari ummat yang mendengar dakwahku, Yahudi atau Nashrani yang mendengar tentang aku, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan agama yang aku bawa maka dia pasti masuk neraka". (Shahih Muslim I/34)
Adalah merupakan janji Allah yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu yang tidak mungkin melewatkan berita besar ini, di mana dunia sejak diciptakannya hingga hari kiamat tak akan menjumpai perkara yang lebih besar daripada hal tersebut, sebab hal ini merupakan jantung dunia. Apabila berita tentang Dajjal sang pendusta yang keluar pada akhir zaman, di mana saat itu dunia tersisa 40 kaum, tidak pernah dilewatkan penyampaiannya oleh para Nabi dan Rasul, termasuk oleh penutup para Rasul, maka bagaimana mungkin kitab-kitab yang datang dari Allah sejak yang pertama hingga yang terakhir membiarkan dan tidak memberitakan tentang kedatangan Rasulullah SAW. Hal ini sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat dan sangat tidak sesuai dengan hikmah Allah yang Maha Bijaksana. Justru yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, yakni Allah tidaklah mengutus Nabi dan Rasul melainkan mengambil perjanjian supaya mereka beriman kepada Muhammad SAW dan membenarkannya. Allah berfirman :
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongbya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian?” Mereka menjawab, “ Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula ) bersama kamu.” (Ali-Imran : 81)
Dalam hal ini Ibnu Abbas ra. berkata : “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun, kecuali Dia mengambil perjanjian darinya, yakni jika pada saat Muhammad SAW diutus dan ia (nabi yang diutus sebelumnya) masih hidup, niscaya ia akan mempercayai dan menolongnya. Allah juga memerintahkan kepada Nabi-Nya supaya ia mengambil perjanjian dari ummatnya, yaitu pada saat Muhammad diutus dan mereka masih hidup, niscaya mereka mempercayai dan mengikutinya.”
Dalam kitab Taurat disebutkan :
“Akan Kami datangkan kepada Bani Israil seorang Nabi dari saudara mereka yang sama dengan kamu (Musa), dan akan Ku-jadikan Firman-Ku disampaikan melalui bibir (perkataan) – nya dan ia akan mengatakan kepada mereka sesuai dengan yang diberikan kepadanya. Barang siapa yang tidak mau menerima perintahnya dan memberikan penderitaan kepadanya, padahal ia menyampaikannya atas nama-Ku, maka orang tersebut akan Kami siksa.” (Ulangan 18 : 18 – 19)
Nash ini tak akan bisa dipungkiri oleh siapa pun. Akan tetapi di kalangan ahli kitab terdapat empat macam pendapat. Satu pendapat oleh orang Nashrani, mereka menyatakan bahwa itu adalah Al-Masih. Tiga pendapat oleh orang Yahudi, mereka menyatakan :
1. Bahwa dalam kalimat tersebut terdapat pembuangan huruf istifham (kata tanya). Menurut mereka kalimat tersebut semestinya : “Apakah Kami akan mengangkat seorang Nabi yang diutus kepada bani Israil dari saudara mereka?” Istifham ini menunjukkan pengingkaran, yakni Kami (Allah) tidak akan melakukan hal itu. Ini adalah ta’wil yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, tanpa dalil sama sekali.
2. Yang dimaksud adalah Nabi Semuel, karena ia termasuk nabinya bani Israil.
3. Yang dimaksud adalah Nabi Akhir Zaman yang mendirikan kerajaan Yahudi dan mengangkat martabat mereka. Sampai saat ini mereka masih menunggunya.
Dalam pandangan kaum Muslimin, yang dimaksud dengan Pembawa Kabar Gembira dalam konteks Firman Allah tersebut sangat jelas sekali adalah Muhammad bin Abdullah SAW, bukan yang lainnya. Karena Nabi tersebut dari saudaranya bani Israil, bukan dari bani Israil. Apabila yang dimaksud Basyarah (Pembawa Kabar Gembura) itu adalah Al-Masih, tentunya Allah akan berfirman : “Kami akan mengangkat seorang Nabi dari golongan mereka sendiri”, sebagaimana Allah telah berfirman : “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri”.
(Ali Imran : 164). Saudaranya bani Israil adalah bani Ismail. Dalam bahasa mana pun adalah tidak masuk akal, kalau yang dimaksud saudaranya bani Israil adalah bani Israil. Sebagaimana tidak logis, apabila mengatakan saudaranya Zaid adalah Zaid.
Kemudian ungkapan, “Seorang Nabi seperti kamu (Musa)”. Ini menunjukkan Nabi tersebut membawa syariat umum seperti Musa. Hal ini telah menggugurkan argumentasi yang mengatakan nabi itu adalah Semuel maupun Yusya’ bin Nun (Yosua bin Nun). Ini dapat dilihat dari tiga segi :
1. Semuel maupun Yusya’ termasuk nabi Bani Israil, bukan dari saudaranya bani Israil.
2. Semuel maupun Yusya’ tidak setara dengan Nabi Musa, sedangkan di dalam Taurat dikatakan :
“Tidak diutus di kalangan Bani Israil seorang Nabi yang seperti Musa”
(Ulangan 34 : 10)
3. Yusya’ diutus pada zaman nabi Musa. Demikian juga gugur pula yang berargumentasi bahwa nabi yang dimaksud adalah nabi Harun, karena nabi Harun diutus bersamaan dengan nabi Musa dan wafat pada zaman nabi Musa.
Adapun argumentasi yang ke tiga dari orang Yahudi telah gugur dengan sendirinya berdasarkan ungkapan, “Akan Ku-jadikan Firman-Ku disampaikan melalui bibir (perkataan) – nya dan ia akan mengatakan kepada mereka sesuai dengan yang diberikan kepadanya”. Hal ini tidak pernah terjadi pada siapa pun setelah nabi Musa, selain kepada nabi Muhammad SAW. Ini merupakan isyarat tentang kenabian beliau yang telah diberitakan oleh para nabi terdahulu. Allah berfirman :
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ruhul-amin (Jibril), kepada hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang-orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama bani Israil mengetahuinya?”
(Asy-Syu’ara : 192 – 197)
Jadi yang dimaksud dengan nabi yang menyampaikan Firman-Nya kepada ummatnya dalam nash Taurat itu adalah nabi Muhammad SAW, bukan Al-Masih seperti yang disepakati orang-orang Nashrani. Karena Pembawa Kabar Gembira itu berasal dari saudaranya bani Israil, sedang Al-Masih termasuk bani Israil. Kemudian Pembawa Kabar Gembira itu hanyalah seorang hamba dan nabi, tidak lebih dari itu. Sementara orang-orang Nashrani meyakini bahwa Al-Masih adalah Allah atau Anak Allah. Jelas bahwa kesepakatan orang-orang Nashrani bahwa yang dimaksud dengan Pembawa Kabar Gembira adalah Al-Masih menjadi gugur dan bathal.
Adapun omongan dusta yang menyatakan bahwa dalam nash Taurat itu terdapat huruf istifham yang dibuang, yang mengandung makna istifham inkari sehingga pengertiannya menjadi : “Kami tidak mengutus kepada bani Israil seorang Nabi”, maka hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menyelewengkan Firman Allah dari ketentuan yang semestinya dalam rangka melakukan kedustaan kepada Allah. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk mengatakan bahwa sesuatu yang telah mereka ganti dan mereka selewengkan adalah berasal dari Allah. Jelas tujuan mereka adalah menyelewengkan dan mengganti firman Allah. Maka Allah tampakkan kebenaran Muhammad bagi setiap orang yang memiliki hati dan akal pikiran. Sehingga bertambahlah keimanan orang-orang yang mengakui kebenaran Muhammad SAW dan bertambah pula kekejian orang-orang Kafir.
Dalam Taurat disebutkan lagi :
“Allah menampakkan diri dari gunung Sinai, keluar dari Sa’ir, dan muncul dari gunung Faran, serta dari sebelah kanannya nampak gundukan anak-anak bukit”. (Ulangan 33 : 2)
Firman Allah ini mengandung berita tentang 3 orang nabi. Sinai adalah gunung di mana Allah menyampaikan Firman-Nya dan memberitahukan tentang kenabian Musa. Yang dimaksud dengan “keluar dari Sa’ir” adalah keluarnya Al-Masih dari Baitul-Maqdis dan Sa’ir adalah suatu kampung yang masih dikenal hingga sekarang. Yang dimaksud dengan Faran adalah Mekkah tempat lahirnya Muhammad SAW.
Allah telah mengumpamakan kenabian Musa dengan datangnya waktu shubuh, kenabian Al-Masih dengan terbit matahari dan kenabian Muhammad SAW dengan terik matahari di siang hari yang sinarnya menerangi berbagai pelosok. Sesungguhnya Allah telah memecahkan kekufuran dengan kenabian Musa, cahayanya ditambah dengan kenabian Al-Masih dan akhirnya disempurnakan oleh penutup para nabi, Muhammad SAW.
Allah berfirman :
“Demi (buah) Tin dan (buah) zaitun, dan demi gunung Sinai, dan demi kota (Mekkah) ini yang aman.” (At-Tin : 1 – 3)
Yang dimaksud dengan At-Tin dan Az-Zaitun adalah tempat tumbuhnya kedua tanaman tersebut, yakni tanah Al-Muqaddas (suci) tempat lahirnya nabi Isa. Gunung Sinai adalah tempat Allah memberitahukan kenabian Musa. Kota yang aman adalah tanah haram, yaitu Mekkah tempat kelahiran Muhammad SAW. Ayat tersebut merupakan dalil kenabian tiga orang tersebut.
Orang Yahudi mengatakan bahwa : “Faran adalah Syam, bukan Hijaz”. Perkataan mereka itu bukan hal baru dalam melakukan kebohongan, kedustaan dan penyelewengan. Sebagaimana mereka telah menyelewengkan dan melakukan kebohongan terhadap kitab Taurat dengan menta’wilkan ayat Taurat : “Dan Ismail tinggal di daratan Faran serta ibunya menikahkannya dengan seorang wanita dari Jarham” (Kejadian Kejadian 21 : 21), menjadi : “Sesungguhnya Ismail ketika berpisah dengan ayahnya, ia tinggal di daratan Faran”. Sesungguhnya para ulama ahli kitab tidak meragukan kalau Faran adalah tempat yang didiami Ismail dan di sinilah Muhammad SAW dilahirkan. Jelaslah bahwa Firman itu mengisyaratkan tentang kenabian Muhammad SAW yang diutus di daratan Faran dan merupakan keturunan Ismail yang sangat mulia yang cahaya kenabiannya memenuhi bumi serta pengikutnya memenuhi gunung dan daratan. Kepada orang yang sombong tersebut bisa ditanyakan, “Nabi siapa yang keluar dari Syam yang kenabiannya menerangi layaknya sinar matahari dan melebihi cahaya kenabian sebelumnya?”. Sesungguhnya Taurat sendiri telah mengungkapkan tentang mereka, “Sesungguhnya mereka itu merupakan suatu kelompok yang tidak mempunyai pikiran dan tidak memiliki kecerdasan”. Dalam Keluaran 32 : 9 disebutkan, “Sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang keras tengkuknya”. Dalam Bilangan 14 : 11 disebutkan, “Bangsa ini menghina Aku dan tidak mau beriman kepada-Ku, meskipun sudah Ku-lakukan segala tanda mu’jizat di tengah-tengan mereka”. Inilah sifat dasar kaum Yahudi. Dalam Injil Matius 8 : 11 - 12 disebutkan : “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat serta duduk makan bersama Ibrahim, Ishaq dan Yaqub di dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan anak-anak kerajaan tersebut (kaum Yahudi) akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Orang yang mengatakan matahari terbit dari timur akan disalahkan oleh mereka, dan dengan sombongnya mereka berkata bahwa matahari terbit dari barat.
Dalam Taurat disebutkan lagi :
“Sesungguhnya kerajaan itu telah tampak bagi Hajar, ibunya Ismail. Allah
berfirman : “Wahai Hajar, darimana engkau akan menerima kerajaan itu dan akan ke mana kau akan arahkan?” Ketika Hajar menjelaskannya kepada Allah tentang hal itu, Allah berfirman : “Kembalilah engkau, karena sesungguhnya Aku akan memperbanyak keturunan dari anakmu, sehingga tak terhitung jumlahnya, dan kamu akan mengandung dan melahirkan seorang anak yang bernama Ismail, karena Allah telah mendengar ketundukan dan kerendahan dirimu. Dan anakmu akan keras terhadap manusia dan kekuasaannya akan menguasai seluruh kekuasaan manusia, sedangkan kekuasaan seluruh manusia akan menerima dengan tunduk terhadap kekuasaannya”.” (Kejadian : 16 : 8 – 12)
Ini merupakan kabar gembira bahwa akan ada keturunan Ismail yang kekuasaannya meliputi kekuasaan seluruh makhluq, kalimatnya menjulang tinggi dan kekuasaan seluruh makhluq di bawah kekuasaannya. Bukankah yang mencocoki sifat yang disebutkan itu hanya terdapat pada Nabi Muhammad SAW?
Juga dalam Taurat :
“Sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Ibrahim bahwa Aku akan jadikan keturunan anakmu Ismail itu diutus kepada umat yang besar, karena dia termasuk putramu juga”. (Kejadian : 17 : 20)
Siapa yang merenungkan ayat ini akan memahami bahwa akan ada keturunan Ismail yang diutus kepada umat yang besar, yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar dan kenabian terlebih dahulu, lalu kenabian dan kekuasaan berpindah kepadanya. Sifat ini hanya terjadi pada Nabi Muhammad SAW yang merupakan keturunan Ismail. Sebelumnya kenabian dan kekuasaan dipegang oleh Bani Israil dan Bani Esau (Al-‘Ish), kemudian berpindah kepada Bani Ismail, yakni Muhammad SAW.
Juga dalam Taurat :
“Sesungguhnya Allah berfirman kepada Ibrahim : “Sesungguhnya tahun ini kamu akan memiliki seorang anak yang bernama Ishaq”. Tetapi Ibrahim berkata : “Mudah-mudahan Ismail hidup di hadapan Engkau dengan disertai keagungan yang Engkau berikan padanya”. Allah berfirman : “Sungguh Aku telah mengabulkan permintaanmu dalam masalah Ismail, dan sesungguhnya Aku benar-benar akan memberkati, menganugerahi dan mengagungkannya sebagai jawaban atas permintaan Ibrahim”. Dan Sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Ibrahim bahwa Aku akan jadikan keturunan anakmu Ismail itu diutus kepada umat yang besar, karena dia termasuk putramu juga”. (Kejadian : 17 : 18 - 20)
Yang dimaksud tidak lain adalah Muhammad SAW, karena dialah dari keturunan Ismail yang diagungkan dan diberkati oleh Allah, yang diutus kepada umat yang besar dan mempunyai keturunan yang banyak.
Juga dalam Taurat :
“Musa berkata kepada Bani Israil : “Janganlah kamu mentaati peramal dan astrolog, karena Allah akan mengutus kepada kamu seorang nabi dari saudara kamu sepertiku, maka ikutilah perintahnya”. (Ulangan 19 : 14 – 15)
Nabi yang dijanjikan tersebut bukanlah dari Bani Israil sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sebagaimana apabila dikatakan Wail memiliki anak, Bakar dan Taghlab, maka Taghlab adalah saudara Bakar dan keturunan Bakar adalah saudaranya keturunan Taghlab. Apabila kamu berkata : “Saudara keturunan Bakar adalah keturunan Bakar”, maka ini adalah perkara yang mustahil. Apabila kamu berkata : “Seseorang datang dengan membawa seorang laki-laki dari saudaranya keturunan Bakar”, tentunya akal akan memahami orang tersebut datang dengan membawa keturunan Taghlab. Jelas dan gamblang bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah Muhammad SAW.
Dalam Injil dikatakan :
“Sesungguhnya Al-Masih berkata kepada Hawariyyin (para pengikutnya) : “Sesungguhnya aku akan pergi dan akan datang kepadamu “Al-Far Qalith”, yaitu ruh yang haq yang tidak berkata berdasarkan hawa nafsunya, tetapi berkata sesuai dengan apa dikatakan kepadanya. Dia mempersaksikanku dan kamu pun harus mempersaksikannya karena kamu besertaku sebelum orang-orang mempersaksikan. Dan segala sesuatu yang Allah janjikan kepadamu akan dikabarkan melaluinya”.
Dalam Injil dikatakan :
““Al-Far Qalith” ini tidak akan datang kepadamu sebelum aku pergi. Apabila dia datang akan berkurang kesalahan di alam ini, dia tidak berkata berdasarkan hawa nafsunya, tetapi dia berkata sesuai dengan apa yang dia dengar. Dia akan berkata dan menghiasi kamu dengan kebenaran dan dia akan nengabarkan kepadamu tentang segala sesuatu yang terjadi di alam nyata dan alam ghaib.” (Yohanes 16 : 7 – 9)
Dalam Injil dikatakan :
““Al-Far Qalith” itu adalah ruh yang haq yang diutus Bapa-ku atas nama-ku dan dia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu.” (Yohanes 14 : 26)
Dalam Injil dikatakan :
“Sesungguhnya aku meminta kepada-Nya agar mengutus kepada kamu “Al-Far Qalith” yang lain yang akan menyertai kamu selamanya dan akan mengajarimu segala sesuatu.” (Yohanes 14 : 16 - 17)
Dalam Injil dikatakan :
“Seorang anak manusia akan pergi dan setelahnya “Al-Far Qalith” akan datang kepadamu dengan membawa beberapa rahasia dan menjelaskan kepadamu segala sesuatu, dia mempersaksikanku dan aku pun mempersaksikannya. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa “amtsal” (perumpamaan), sedangkan dia datang kepadamu dengan membawa “ta’wil” (penjelasan).”
Abu Ahmad bin Qutaibah berkata : “Ungkapan – ungkapan di atas pengertiannya sangat berdekatan satu sama lain dan tidak ada perbedaan yang mencolok. Perbedaanya hanya dalam segi penukilan atau pengutipan dari Al-Masih ‘alaihi salam.” Yang dimaksud dengan “Al-Far Qalith” adalah “suatu kata yang mengandung makna pujian”. Dalam Injil Al-Habsyi bin Na’this digunakan kata : “Ahmad, Muhammad, Mahmud dan Hamid.”
Terlontar sebuah pernyataan, “Telah tersebar di lingkungan anda (kaum muslimin) seperti terdapat dalam Kitab dan Sunnah bahwa Nabi anda telah tercantum dalam Taurat dan Injil, akan tetapi Yahudi dan Nashrani menghilangkannya dengan alasan kekuasaan dan kepemimpinan. Akal akan menentang hal ini, karena apakah setiap orang di antara mereka semuanya sepakat untuk menghilangkan namanya dari Kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Tuhan mereka di timur, barat, utara dan selatan?!”
Pernyataan tersebut muncul karena dasar pemahamannya yang salah, yakni seolah-olah kaum muslimin yakin bahwa nama Nabi SAW yang jelas, yaitu Muhammad dalam bahasa Arab telah disebutkan dalam Taurat dan Injil, lalu Yahudi dan Nashrani di seluruh dunia menghapuskan nama tersebut dan menghilangkan sebagian besar isi kedua kitab, bahkan mereka saling mengingatkan dan memberikan pesan tersebut, baik antara yang berdekatan maupun yang berjauhan, baik yang di timur maupun di barat. Sesungguhnya pemahaman yang salah ini tak pernah diungkapkan oleh seorang ulama pun dari kalangan kaum muslimin, juga tidak diberitakan oleh Allah SWT dalam Kitabnya (Al-Qur’an), juga bukan berasal dari Nabi SAW. Satu orang shahabat pun tak pernah mengucapkan hal tersebut, begitu juga para ahli tafsir tak pernah mengatakannya. Jika ada yang mengemukakan, maka itu hanya dilakukan oleh kalangan awam dari kaum muslimin yang bermaksud menolong Rasulullah SAW, akan tetapi seperti sebuah peribahasa, “Teman yang bodoh lebih berbahaya daripada musuh yang pintar”. Mereka yang awam melakukan hal itu karena kedangkalan mereka dalam memahami Firman Allah SWT :
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar.” (Al-A’raaf : 157)
Mereka memahami bahwa ini sebagai penunjukkan secara khusus nama bahasa Arab-nya di dalam Taurat dan Injil, padahal ini tidak pernah terjadi sama sekali. Berikut penjelasannya.
Sesungguhnya Tuhan yang Maha Suci hanya menyebutkan keberadaan Rasul-Nya SAW di dalam Kitab mereka berupa berita tentang dirinya, sifatnya, tempat kelahirannya dan kriterianya. Bukan nama bahasa Arab-nya, lafazh-lafazhnya (bunyi teksnya) telah kami sebutkan di atas. Penjelasan seperti ini jauh lebih sempurna daripada sekedar penyebutan nama. Penyebutan nama saja, sesungguhnya tak akan memberikan petunjuk dan tak akan memberikan definisi yang jelas, mudah dimanipulasi dan diselewengkan. Berbeda dengan penyebutan kriteria, sifat, tanda-tanda, panggilan, sifat ummatnya, waktu kelahiran dan karakteristik lainnya yang seperti ini, akan memberikan definisi dan petunjuk yang lebih jelas dan fokus. (Orang bernama Muhammad mungkin banyak dan bisa dipalsukan, tetapi orang yang shifatnya dan karakteristiknya dijelaskan dengan gamblang dan nyata hanyalah ada satu orang, tidak ada yang lain) Penjelasan seperti inilah yang terdapat di dalam Taurat, Injil dan Kitab-kitab para Nabi yang ada di tangan Ahli Kitab sebagaimana yang telah kami terangkan sebagian.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling bersungguh-sungguh dan paling berusaha keras dalam menunjukkan kebenarannya, ajakan untuk mengikutinya, dan dalam mengemukakan berbagai argumen untuk menghadapi orang-orang yang menolak dan mengingkari kenabiannya. Utamanya terhadap ulama dari ahli kitab, beliau memberikan bukti dengan pengetahuan yang ada pada mereka.
Beliau telah mendeklarasikan di hadapan kedua ummat ini, yang dikenal sebagai ummat yang paling pandai sebelum kenabian beliau, yakni bahwa penyebutannya, sifatnya, dan kriterianya tercantum dalam kitab-kitab mereka. Hal ini beliau lakukan di setiap pertemuan, siang dan malam, secara diam-diam maupun terang-terangan. Beliau senantiasa menyeru supaya mereka mempercayai dan mengikutinya. Berkat usaha keras beliau, sebagian mereka ada yang membenarkan dan mengikuti beliau, kemudian mereka menyampaikan kebenaran ini kepada yang lainnya.
Tujuan akhir dari para pendusta dan penentang kenabian beliau adalah mengemukakan kepada khalayak ungkapan, “Berita tentang sifat dan kriteria tersebut adalah benar, akan tetapi engkau (Muhammad) bukanlah orang yang dimaksudkan oleh berita tersebut, melainkan nabi yang lain”. Ungkapan ini lemah sejak dari awalnya. Lemah seperti sarang laba-laba. Sifat-sifat, tanda-tanda dan kriteria-kriteria yang mereka ketahui berdasarkan berita yang terdapat pada kitab-kitab mereka sangatlah bersesuaian, tak mungkin bisa diragukan lagi oleh orang yang telah mengetahui dan menemukan bahwa beliau adalah orang yang dimaksudkan oleh berita tersebut. Sebagaimana Hiraclius, dia mengetahui kenabian beliau berdasarkan apa yang digambarkan oleh Abu Sofyan, sehingga dia berkata, “Jika benar apa yang engkau katakan, maka sesungguhnya dia adalah nabi, dan ia akan menguasai apa yang saat ini berada di bawah kekuasaanku”. Allah berfirman :
“Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (Al-Baqarah : 146)
“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)”. (Al-An’am : 20)
Sesungguhnya pengetahuan ahli kitab tersebut hanyalah berdasarkan kriteria dan gambaran yang terdapat dalam kitab mereka, sebagaimana perkataan sebagian di antara mereka yang beriman : “Demi Allah, seseorang di antara kami sangat mengetahui Muhammad SAW, sebagaimana ia mengetahui anaknya. Sesungguhnya seseorang di antara kami (yang mengetahui beliau) pasti akan meninggalkan istrinya dan ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu”. Allah SWT memuji mereka yang mengetahui kebenaran, tidak mengingkarinya dan mengikutinya :
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata : “Sesungguhnya kami ini orang Nashrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata : “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlash keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayt-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” (Al-Maidah : 82 – 86)
Ibnu Abbas menceritakan bahwa ketika shahabat-shahabat Nabi SAW datang ke hadapan Raja Najasyi dan mereka membacakan Al-Qur’an, saat itu para rahib dan pendeta yang mendengarnya mencucurkan air mata karena mendengar kebenaran yang sesungguhnya telah mereka ketahui. Maka Allah berfirman tentang mereka :
“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Maidah : 82)
Menurut As-Sadiy, ada sejumlah orang-orang pilihan Najasyi, yaitu 7 orang pendeta dan 5 orang rahib, yang dikirim kepada Rasulullah SAW, ketika beliau memperdengarkan Al-Qur’an di hadapan mereka, mereka menangis dan mengatakan :
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).” (Ali-Imran : 53)
Berdasarkan Hadits yang diceritakan oleh Yunus bin Bakir, dari Salmah bin Abdu Yasu’, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Yunus sebelumnya adalah seorang Nashrani kemudian masuk Islam, dia menceritakan tentang Rasulullah SAW yang menulis surat kepada penguasa Najran dan penduduknya (yang beragama Nashrani). Kemudian penguasa Najran mengirim utusan menghadap Rasulullah SAW di Madinah dan utusan tersebut kembali ke Najran dengan membawa surat dari Rasulullah SAW. Bahwa raja Najran memiliki seorang saudara dari pihak ibunya, dia adalah anak pamannya dari segi nasab, namanya Abu Alqamah. Ketika raja membaca surat Rasulullah SAW tersebut, Abu Alqamah sedang berjalan bersamanya. Tiba-tiba Abu Alqamah membanting untanya hingga tersungkur, Raja berkata kepadanya : “Demi Allah, engkau telah menghina seorang Nabi yang diutus”. Kemudian Abu Alqamah menjawab, “Tidak boleh tidak, demi Allah, aku tak akan menyerahkan negeri ini hingga aku menemuinya”. Kemudian ia mengarahkan untanya menuju Madinah, tetapi raja memalingkannya dan menahannya, serta berkata kepadanya : “Pahamilah aku, aku mengatakan hal itu tidak lain hanyalah karena aku khawatir orang Arab dapat mengetahui dariku bahwa kita telah mengambil suatu kekeliruan dan kebodohan atau kita telah mengambil suatu kebaikan dari orang ini yang belum dimanfaatkan oleh orang Arab, padahal kita lebih baik dari mereka dan wilayah kekuasaan kita lebih besar”. Abu Alqamah menjawab : “Demi Allah, sama sekali aku tidak menentangmu dan tidak membantah apa-apa yang keluar dari kepalamu”. Kemudian ia memacu untanya dan berkata :
Telah datang kepadamu kekacauan dan benihnya
Di dalam perutnya telah menunjukkan janinnya
Agamanya berbeda dengan agama Nashrani
Akhirnya dia sampai kepada Rasulullah SAW dan Abu Alqamah terus bersama beliau hingga mati syahid setelah itu.
Bahwa perintah dan larangan yang dibawa para rasul pada pokoknya adalah sama, yakni supaya manusia menetapi Tauhid dan menjauhi syirik. Inilah yang dimaksud dengan Al-Islam. Syaikh Muhammad berkata dalam Ushul Tsalatsah : "Islam adalah tunduk (istislam) kepada Allah dengan Tauhid, patuh (Inqiyad) kepada-Nya dengan tha'at, serta berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik".
Allah berfirman :
"Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul dari antara mereka (yang berkata), "Beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagi kamu Tuhan (yang berhak diibadahi) selain-Nya. Menagapakah kamu tidak bertaqwa". (Al-Mu'minuun : 32)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan Allah dan mengampuni dosa selain syirik kepada siapa yang Dia kehendaki dan barang siapa yang menyekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang sangat besar”. (An-Nisaa : 48)
"Sungguh, barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya. Tempat baginya adalah jahannam dan bagi orang zhalim itu tidak ada penolong sama sekali". (Al-Maidah : 72)
"Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu beribadahlah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyin menjawab, "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam". (Ali-Imran : 51 - 52)
"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang muslim yang hanif dan sekali-kali dia bukanlah dari golongan orang-orang musyrik". (Ali-Imran : 67)
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahkun tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku diperintah supaya aku termasuk golongan orang-orang Islam". (Yunus : 71 -72)
"Dan Musa berkata, "Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkal-lah kepada Allah saja, jika kamu benar-benar orang Islam". (Yunus : 84)
"Katakanlah, "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, "Bahwasanya Tuhanmu (yang berhak diibadahi tidak lain) adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu menjadi orang-orang Islam". (Al-Anbiya : 108)
"Dia telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu". (Al-Hajj : 78)
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam". (Ali-Imran : 19)
"Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (ali-Imran : 85)
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu".
(Al-Maidah : 5)
'Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengadakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim". (Ash-Shaff : 61)
Rasulullah SAW bersabda :
"Dan para nabi itu adalah bersaudara dan agama mereka adalah satu (yakni semua rasul menyeru kepada Tauhid)". (HR Muttafaqun 'alaihi)
Terlontar pertanyaan, bagaimana dengan jaman sekarang karena penyimpangan bukan hanya terjadi pada zaman diutusnya para rasul, sedang sekarang wahyu sudah terputus dan tidak ada lagi nabi? Jawabnya adalah :
Allah berfirman :
"Maka apabila kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul". (An-Nisaa : 59)
Bahwa awal mula dari penyimpangan adalah terjadinya perselisihan, maka ketika berselisih tentang sesuatu dalam agama, Allah memerintahkan untuk dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, maksudnya adalah dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah saw bersabda :
“Kuwariskan kepadamu dua perkara yang jika kamu pegang erat-erat, niscaya kamu tidak akan tersesat selamanya. Dua perkara itu adalah Al-Qur’an dan Sunnahku!”
Bahwa warisan Islam adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan kitab-kitab para ulama pendahulu kita yang mengikuti jalan sunnah atau kitab-kitab para salafush-shalih, maka kepadanyalah kita merujuk. Rasulullah saw bersabda :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar